Valentine's Day Special 2017: Apa yang spesial tentang hari Valentine di Jepang?

Valentine's Day Special 2017: Apa yang spesial tentang hari Valentine di Jepang?

Hari Valentine adalah hari yang dinilai penting bagi insan-insan di berbagai penjuru dunia yang sedang jatuh cinta. Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat-masyarakat muda Jepang. Tapi, ternyata budaya Valentine di Jepang tidak sesimpel yang kita kira, loh. Penasaran? Simak artikel spesial BP-Guide tentang hari Valentine di Jepang!

Jangan heran kalau wanita-wanita Jepang mendadak romantis di hari Valentine

Meski hari Valentine bukan merupakan kebudayaan asli Jepang, masyarakat Jepang sangat menyukai event yang satu ini hingga boleh dikatakan menjadi sebuah tradisi baru di Jepang. Berbeda dengan hari Valentine d negara-negara lain dimana pria yang memberikan hadiah cokelat untuk wanita, perayaan Valentine di Jepang justru sebaliknya — para wanita yang berlomba-lomba memberikan cokelat kepada pria yang disukai sebagai ungkapan rasa sayang mereka.

Kemudian, apabila sang pria menyambut perasaan kasih sayang tersebut, pria tersebut bisa mengungkapkan perasaannya dengan memberi balasan pada tanggal yang sama di bulan berikutnya, yaitu 14 Maret atau disebut dengan White Day.

Pemberian cokelat pada hari Valentine di Jepang tidak dibatasi kepada pria yang disukai saja, tetapi juga pria-pria yang mereka anggap penting dalam kehidupan mereka seperti teman sekelas, rekan kerja, ayah, paman, dan lainnya. Oleh karena itu menjelang hari Valentine hampir semua gadis muda Jepang sibuk membuat cokelat dan mencari kado untuk diberikan.

Umumnya hal ini dikarenakan tradisi di Jepang dimana kaum hawa cenderung tunduk kepada kaum adam, sehingga mereka malu-malu apabila harus mengungkapkan perasaan mereka terlebih dahulu. Oleh karena itu, hari Valentine merupakan ajang yang tepat bagi mereka untuk memberanikan diri dalam mengungkapkan perasaan yang terpendam tersebut.

Uniknya asal muasal hari valentine di jepang

Tahukah kamu kalau hari Valentine menjadi populer di kalangan pemuda pemudi Jepang berkat promosi-promosi yang dilakukan oleh beberapa produsen cokelat dan toko kue terkemuka di Jepang?

Menurut sebuah sumber, toko kue Morosov dilansir sebagai toko pertama yang mempromosikan cokelat-cokelat mereka sebagai "Valentine Chocolate" melalui sebuah iklan majalah pada tahun 1936. Hal ini kembali diulang pada jangka tahun 1950-1960, dimana perusahaan Mary's Chocolate mencoba mempromosikan cokelat Valentine di gerai mereka di sebuah pusat perbelanjaan Jepang bernama Isetan.

Meski kedua upaya promosi di atas tidak terhitung sukses jika ditinjau dari jumlah sales maupun brand awareness, kedua tersebut memberi ide-ide baru untuk perusahaan-perusahaan lainnya. Buktinya, pada tahun 1968, seorang produser dari perusahaan Sony yang bernama Teruo Morita mencoba untuk mendongkrak popularitas cokelat Valentine dengan bekerjasama dengan toko-toko kelontong barang impor yang merupakan partner Sony.

Berkat berbagai macam promosi yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini, masyarakat Jepang menjadi mulai terbiasa untuk membeli cokelat sebagai hadiah pada hari Valentine hingga akhirnya menjadi sebuah budaya baru. Menurut statistik, omzet para perusahaan pembuat coklat melonjak naik sebanyak 20% atau lebih ketika hari Valentine. Hebat benar kan hari Valentine di Jepang?

Ternyata, hari Valentine di Jepang ada lanjutannya loh!

Seperti yang sudah disebutkan di atas, perayaan Valentine di Jepang tidak berakhir begitu saja, tidak seperti perayaan Valentine di negara-negara lain. Kenapa begitu? Karena di Jepang, Valentine's Day akan dilanjutkan dengan White Day.

Apa itu White Day? White Day dirayakan pada tanggal 14 Maret atau sebulan sesudah hari Valentine. Hari ini adalah hari dimana para pria yang mendapatkan coklat di Valentine's Day harus memberikan balasan sebagai tanda bahwa pria tersebut menghargai atau membalas perasaan wanita yang memberinya coklat. Jika seorang pria tidak membalas pemberian wanita ketika White Day, ia bisa dianggap sebagai orang yang cuek atau ingin memutuskan hubungan dengan wanita tersebut.

Selain itu, pada perayaan Valentine di luar Jepang, biasanya kita hanya memberi hadiah pada satu orang yang kita sukai saja. Kalau kita memberikan cokelat kepada beberapa laki-laki, bisa-bisa kita dianggap mata keranjang karena dikira naksir banyak orang sekaligus. Namun, di Jepang justru sebaliknya. Pada hari Valentine, hampir semua gadis memberi coklat kepada laki-laki yang mereka kenal. Namun, yang membedakan adalah mereka memberikan coklat spesial yang disebut honmei choco ( 本命チョコ) kepada satu orang yang mereka sukai saja. Sedangkan untuk teman-teman, rekan kerja atau kenalan, yang mereka berikan adalah giri choco (義理チョコ) . Selain kedua jenis coklat ini, masih ada beberapa jenis chocolainnya yang akan dijelaskan di bawah.

Tipe-tipe cokelat Valentine dan arti yang tersirat dalam cokelat tersebut

Sumber gambar woman.excite.co.jp

Pada umumnya, wanita Jepang memberikan cokelat di hari Valentine ini kepada hampir semua laki-laki yang dikenal. Mulai dari teman, atasan, bawahan, saudara, keluarga, bahkan sampai kenalan pun akan diberikan cokelat.

Yang menarik, para wanita Jepang membeda-bedakan jenis cokelat yang akan diberikan berdasarkan tingkat keakraban mereka dengan orang yang akan mereka beri cokelat. Contohnya, kepada orang yang mereka cintai, mereka akan memberikan cokelat yang mahal atau buatan sendiri dengan penuh kasih sayang. Untuk orang-orang lain seperti atasan, mereka tidak akan membuat cokelatnya sendiri tapi langsung membelinya dari toko-toko terdekat.



Giri choco (義理チョコ)

Sumber gambar www.google.co.jp

Giri Choco berasal dari kata giri (義理) yang berarti kewajiban dan choco (チョコ). Sesuai namanya, cokelat ini diberikan sebagai formalitas untuk menjaga relasi kerja atau persahabatan dengan teman-teman pria. Selain itu, pemberian giri choco ini juga diberikan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas bantuannya selama ini.

Oleh karena itu, yang biasanya diberikan coklat jenis ini adalah teman lawan jenis yang kurang dekat atau orang-orang yang dikenal si pemberi seperti rekan kerja kantor, dosen, murid, dan sebagainya. Jadi, tidak heran kalau umumnya cokelat berjenis ini merupakan cokelat yang agak murah dan bisa dibeli di toko secara massal. Berdasarkan survey yang dilakukan perusahaan 3M pada tahun 2014, 59.2 persen dari wanita-wanita yang berencana memberi giri choco memiliki budget sekitar 500 yen atau Rp. 60.000 per giri choco. Sedangkan, 34.1 persen wanita dari kelompok tersebut memiliki budget sekitar 500 - 1000 yen atau Rp. 60.000 sampai Rp. 120.000.

Tomo choco (友チョコ)

Tomo choco diambil dari kata tomo (友) yang merupakan kependekan dari kata tomodachi (友達) yang artinya teman. Dengan kata lain, tomo choco dapat diartikan sebagai coklat pertemanan.

Dari namanya, kita sudah dapat menebak kalau cokelat yang satu ini umumnya diberikan kepada mereka yang berada dalam lingkaran pertemanan saja. Namun, tomo choco ini kebanyakan diberikan kepada teman atau sahabat wanita saja. Selain itu, tomo choco tidak harus berbentuk coklat batangan seperti choco yang lain. Cokelat ini bisa juga berbentuk kue cokelat atau kue lainnya sebagai bentuk persahabatan.

Kebiasaan memberi tomo choco pada teman atau sahabat perempuan ini baru populer di kalangan wanita Jepang belakangan ini. Ternyata, tidak hanya cowo yang bisa menerima cokelat di hari Valentine, ya.

Honmei choco (本命チョコ)

Nah, yang satu ini merupakan coklat yang amat spesial dan penuh makna, bertolak belakang dengan giri choco.

Honmei choco diambil dari kata honmei (本命) yang memiliki makna 'perasaan sesungguhnya'. Oleh karena itu, pria yang diberikan cokleat ini biasanya adalah seseorang yang memiliki arti penting atau orang yang menjadi kesukaan sang wanita. Kebanyakan wanita Jepang memberikan honmei choko ini kepada pacar, suami, atau laki-laki yang sedang ditaksirnya. Cocok deh kalau si pemberi malu-malu untuk mengutarakan perasaannya secara langsung atau pria yang ditaksir sedikit pelan terhadap isyarat-isyarat cinta yang telah diberikan sebelumnya.

Umumnya, wanita Jepang lebih menyukai membuat sendiri honmei choco mereka ketimbang membelinya begitu saja di toko. Dengan membuatnya sendiri, perasaan cinta dianggap bisa tersampaikan dengan lebih baik sekaligus melambangkan ketulusan hati si pembuat.

Kalaupun mereka sibuk hingga tidak memiliki waktu untuk membuatnya sendiri, mereka akan membeli coklat terbaik dan termahal untuk dijadikan sebagai honmei choco ini agar bisa dibedakan dengan mudah dari giri choco. Merek-merek atas seperti Godiva, La Maison Du Chocolat (Paris), Mont St. Clair, dan sebagainya. Harga cokelat-cokelat seperti di atas juga tidak tanggung-tanggung loh. Contohnya, harga sebuah cokelat (iya, sebuah) di Mont St. Clair bisa mencapai Rp. 120.000 dan ke atas loh. Gila, kan?

Jibun choco (自分チョコ)

Sumber gambar lotte-shop.jp

Yang terakhir adalah jibun choco yang diambil dari kata jibun (自分) yang artinya diri sendiri. Bisa dibilang cokelat ini adalah bentuk apresiasi para wanita Jepang terhadap diri sendiri atas jerih payah mereka dalam menyiapkan hadiah dan cokelat Valentine.

Karena tujuannya untuk dimakan sendiri, umumnya para wanita Jepang memilih cokelat yang terbaik dan terlezat yang tidak kalah dari honmei choco untuk dijadikan jibun choco. Lebih baik memanjakan diri daripada memanjakan orang lain, benar?

Jawaban cinta pria idaman adalah di White Day

Nah, pria Jepang memiliki tanggung jawab yang besar untuk membalas cokelat-cokelat yang mereka terima pada hari Valentine dengan kado atau hadiah lain pada White Day.

White Day pertama kali dirayakan tahun 1978 dan merupakan ciptaan bangsa Jepang sebagai tambahan dari perayaan Hari Valentine. Selain Jepang, negara yang ikut merayakan White Day ini adalah Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong.

Awal mulanya, White Day diciptakan sebagai strategi promosi perusahaan permen Jepang untuk meningkatkan penjualan mereka, sebagaimana para produsen coklat berhasil menciptakan budaya baru yang dapat meningkatkan penjualan coklat. Disebut White Day karena bahan baku yang digunakan untuk membuat permen adalah gula yang berwarna putih. Unik kan asal muasalnya?

Ada juga teori yang berkata awal mulanya White Day dicetuskan oleh perusahaan marshmellow dengan tujuan yang sama yaitu mendongkrak penjualan marshmallow mereka. Karena umumnya marshmellow berwarna putih, perayaan tersebut dinamakan Hari Putih atau White Day.

Yang pasti, dalam memberikan hadiah balasan di White Day, ada aturan bahwa sang pria harus memberi sesuatu yang memiliki nilai lebih berharga atau minimal setara dengan nilai coklat yang mereka terima ketika Valentine. Aturan ini sering disebut juga sebagai sanbai gaeshi ((三倍返し) yang memiliki arti 'balasan tiga kali lipat'. Meskipun tidak diterapkan semua orang, terkadang pria Jepang merasa terbebani karena harus memberi balasan yang nilainya tiga kali lipat. Apalagi, kalau pria tersebut tidak mempunyai perasaan untuk si pemberi cokelat.

Hadiah balasan White Day yang diberikan beragam-ragam. Hadiah yang kerap diberikan adalah cookies, white chocolate, perhiasaan atau sesuatu yang lebih mahal kalau sang pria sangat deman dengan si pemberi.

From our editorial team

Hari Valentine di Jepang ternyata lumayan unik, ya!

Salah satu staff kami yang pernah tinggal di Jepang juga menceritakan hal-hal serupa mengenai hari Valentine di Jepang. Jauh berbeda dari yang dirayakan di Indonesia (bagi yang merayakan) dan di negara-negara lain, kan? Semoga artikel BP-Guide kali ini bisa menambah wawasan kamu tentang budaya Valentine di negara-negara lain! Happy Valentine's Day in advance!