Baca juga

Menjadi salah satu tujuan destinasi kuliner terpopuler di dunia, Korea Selatan kini semakin berbenah diri menghadapi gelombang kedatangan para pengunjung. Beragam inovasi kuliner mudah dijumpai di Korea Selatan. Salah satu kuliner yang menarik adalah mi khas Korea.

Ternyata di negeri Ginseng ini juga memiliki mi tradisional yang kaya bumbu dan rempah. Mi tradisional Korea memiliki cara memasak dan penyajian yang unik. Bahkan, kita bisa menjumpai mi tradisional Korea dengan berbagai varian rasa. Seperti rasa wortel, rasa kaldu daging sapi, hingga mi dari kaldu seafood. Namun yang jelas, apa pun jenis mi tradisionalnya, semuanya lezat dan kaya nutrisi.

Nah, dari sekian banyak macam mi tradisional Korea, berikut adalah sjumlah mi khas Korea yang layak untuk dicoba.

Budae Jjigae

Pada tahun 50-an, budae jjigae menjadi populer. Saat itu terjadi kelangkaan bahan makanan terutama di kota Seoul dan area Uijeongbu. Warga lalu memanfaatkan makanan yang tersisa di pangkalan-pangkalan militer Amerika seperti daging, kacang merah kalengan, sosis, dan ham. Kemudian bahan-bahan ini diolah dan dipadukan dengan pasta cabai khas Korea dan kimchi menjadi hidangan berkuah.

Kini budae jjigae biasanya terdiri dari sosis, bacon, tahu, daging babi, daging cincang, mi instan, makaroni, tteok (kue beras Korea), keju, daun bawang, cabai, dan jamur. Rasanya gurih, pedas, dan tentunya lezat.

Jajangmyeon

Jajangmyeon merupakan hidangan mi tebal dengan saus kacang hitam. Selain itu juga dipadukan dengan daging babi cincang dan sayuran. Hidangan ini pertama kali muncul di Incheon yang dipopulerkan oleh para imigran Tiongkok. Namun, lambat laun, yang mengonsumsi jajangmyeon tidak hanya imigran tetapi juga penduduk asli.

Salah satu kebiasaan unik yang berkaitan dengan jajangmyeon adalah saat memperingati hari Black Day yang jatuh pada 14 April. Pada hari tersebut, orang-orang yang masih lajang akan menyantap dan mengenakan pakaian yang serba hitam. Warna hitam dipilih karena melambangkan kesedihan dan putus cinta.

Untuk menambah kenikmatannya, tak jarang dari penduduk Korea yang menambahkan makanan laut semisal cumi-cumi, teripang, dan udang ke dalam sausnya.

Ramyeun

Ramyeun atau ramyeon sebenarnya berasal dari Tiongkok dan dibawa ke Jepang pada era Meiji (1868-1912). Dan karena bertetangga dengan Jepang, Korea juga mulai mengenal ramyeun pada tahun 60-an.

Ramyeun sendiri merupakan mi instan yang sering menjadi tambahan untuk makanan Korea yang lain seperti gablie dan budae jjigae. Ramyeun banyak dimodifikasi menjadi berbagai varian. Ramyeun ini identik dengan rasa pedas. Jadi, pencinta rasa pedas, wajib mencoba ramyeun.

Naengmyeon

Umumnya mi disajikan bersama kuah kaldu yang hangat atau panas mengepul. Namun, mi naengmyeon berbeda dan unik karena disajikan dan dimakan ketika dingin. Saat cuaca Korea sedang panas dan terik, orang lantas membuat inovasi olahan mi yang menyegarkan alias disajikan dalam kondisi dingin.

Ada dua jenis naengmyon, yaitu pyeongyang naengmyeon dan bibim naengmyeon. Pyeongyang naengmyeon sendiri terbuat dari tepung soba sedangkan bibim naengmyeon terbuat dari pati kentang atau ubi. Selanjutnya, adonan akan dipipihkan atau dipotong tipis–tipis menyerupai mi dan direbus hingga matang.

Setelah ditiriskan, mi akan disajikan bersama kuah kaldu yang dingin menyegarkan. Pyeongyang naengmyeon disajikan bersama kuah kaldu sapi dan dongchimi (kimchi lobak) yang dingin. Sedangkan bibim naengmyeon disajikan bersama saus pedas. Waduh rasanya tak perlu ditanya lagi, begitu lezat!

Kalguksu

Jenis mi yang satu ini adalah termasuk mi tradisional yang paling populer dan mudah ditemukan di tepi jalan. Dalam bahasa Korea "kal" sendiri berarti "pisau" dan "guksu" berarti "sup mi". Untuk membuat kalguksu, caranya sangat unik. Adonan mi akan dipotong–potong dengan pisau khusus.

Kalgaksu memiliki ciri khas yaitu dimasukkan ke dalam mangkuk besar bersama kuah kaldu dan sayuran dan disajikan ketika dingin. Hidangan ini ramai pembeli saat musim panas yang terik.

Untuk menikmati Kalguksu istimewa, datang saja ke restoran Myeongdong Gyoja di Korea Selatan yang sudah berpengalaman selama lebih dari 40 tahun menyajikan menu mi dingin ini.

Makguksu

Makguksu adalah hidangan mi soba dingin dengan saus yang manis. Kebayang kan, rasa mi dingin manis yang menyegarkan ini dinikmati saat cuaca terik? Hidangan yang populer ini bisa ditemui di daerah Chuncheon. Jadi, selain lezat, mi ini lebih sehat karena tinggi kadar seratnya.

Jjampong

Sama seperti orang Indonesia yang suka selera pedas, maka warga lokal Korea juga menikmati mi jjampong dengan kuah yang pedas. Sengaja mengusung cita rasa pedas, karena warga lokal ingin menikmati makanan yang dapat menghangatkan tubuh di waktu musim dingin tiba. Pada awalnya, Jjampong dibawa oleh para pedagang asal Tiongkok dan Jepang masuk ke Korea.

Makanan ini disajikan bersama sayuran lokal dan sari laut alias sea food seperti cumi–cumi, ikan, atau gurita. Jjampong memiliki tingkat kepedasan atau level yang bisa disesuaikan dengan selera konsumen.

Japchae

Japchahae menggunakan soun yang terbuat dari pati ubi yang dicampur dengan daging sapi dan aneka jenis sayur. Cara memasak japchae adalah dengan menumis soun, sayuran seperti wortel, jamur shitake, paprika, dan bayam, serta daging. Sayuran dipotong-potong dan daging diris tipis-tipis terlebih dahulu. Bumbunya menggunakan campuran minyak wijen, bawang putih, serta kecap asin.

Cheonsachae

Cheonsachae adalah mi yang terbuat dari ekstrak kombu (sejenis rumput laut) dan dicampur dengan tepung beras. Mi ini memiliki warna yang transparan dengan tekstur cukup kenyal dan rasanya tawar. Biasanya dipakai untuk salad atau garnish.

From our editorial team

Aturan Menggunakan Sumpit di Korea

Orang Korea umumnya menggunakan sumpit untuk makan. Ada aturan dalam menggunakan sumpit ini. Jika sudah menggunakan sumpit, maka dilarang menggunakan sendok untuk mengambil makanan. Begitu pula jika ingin memotong makanan dalam piring atau mangkuk saat makan, diusahakan menggunakan sumpit dan bukan pisau.