Banjir Merupakan Fenomena Alam yang Masih Bisa Dicegah

Sumber gambar https://www.freepik.com

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang tinggi, banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Terhitung sebanyak 464 kejadian banjir terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan jumlah populasi terdampak banjir terbesar ke-6 di dunia, yakni sekitar 640.000 orang per tahunnya.

Banjir sendiri dapat disebabkan oleh berkurangnya tutupan pohon, terutama di kota-kota besar. Tutupan pohon memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan hidrologis pada Daerah Aliran Sungai (DAS). Pohon yang masih rindang memiliki kandungan bahan organik pada tanah membuat tanah menjadi gembur, sehingga mampu menyerap air dengan baik.

Di Indonesia sendiri diindikasi telah kehilangan banyak pohon, seperti contohnya Papua yang kehilangan 887 hektar tutupan pohon yang mengakibatkan banjir pada tahun 2018. Banjir juga dapat disebabkan oleh kondisi topografis atau kemiringan lereng di Indonesia. Semakin curam suatu lereng, maka kecepatan aliran akan semakin cepat dan meningkatkan daya rusak saat banjir bandang.

Kondisi topografis yang didominasi oleh lereng yang curam, akan berpengaruh terhadap terbentuknya bending alami yang menyebabkan banjir. Meskipun begitu, banjir juga bisa disebabkan oleh cuaca ekstrem atau curah hujan dengan intensitas tinggi yang tidak dapat kita hentikan begitu saja, karena merupakan fenomena ilmiah.

Banjir sebenarnya dapat dicegah dengan penggunaan teknologi antibanjir yang mumpuni dan sudah terbukti mampu mencegah banjir seperti yang telah dicoba di beberapa negara. Teknologi anti banjir dikembangkan untuk menanggulangi bencana banjir dan mencegah air masuk ke permukiman warga.

6 Teknologi Anti Banjir

Sumber gambar http://www.shutterstock.com/

Berikut merupakan 6 teknologi anti banjir yang dapat dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda.

Thames Barrier

Sumber gambar https://openhouselondon.open-city.org.uk

Teknologi anti banjir ini berasal dari Inggris, yang dibangun sejak tahun 1974. Thames Barrier membentang selebar 520 m di sungai Thames yang dapat melindungi kota London dari banjir. Gerbang ini dibuat dengan tujuan menghentikan aliran dari hulu sungai agar berhenti dan tidak mengalir menuju pusat kota.

Thames Barrier memiliki 10 gerbang baja yang dapat dibuka dan ditutup secara dinamis. Jika terjadi banjir, maka gerbang akan ditutup,dan dapat menghalau air sungai setinggi 20 meter. Dalam keadaan normal gerbang akan dibuka dan aktivitas sungai akan kembali seperti semula.

G-Cans

Sumber gambar www.atlasobscura.com

G-Cans merupakan teknologi anti banjir yang berasal dari Jepang berupa drainase bawah tanah yang terletak di Kasukabe Saitama. Dibangun sejak 1992, teknologi ini dibangun dengan tujuan untuk mencegah meluapnya sungai atau kanal ketika musim hujan.

G-Cans memiliki 5 tangki berbahan beton dengan tinggi 65 meter dan diameter 64 meter. Tangki tersebut akan dihubungkan oleh terowongan yang berada di bawah permukaan tanah. Ketika hujan, air pada tangki tersebut akan diarahkan ke penampungan akhir. Penampungan air ini memiliki tinggi 25,4 meter, panjang 177 meter, dan lebar 78 meter. Pada penampungan ini, air akan dipompa dan dialirkan ke Sungai Edo untuk dikembalikan ke laut, sehingga kota di sekitarnya dapat terbebas dari banjir.

Delta Plan

Sumber gambar https://www.emancipator.nl

Belanda memiliki Delta Plan yang diciptakan khusus untuk mengendalikan banjir yang sering melanda kota-kota di Belanda pada tahun 1953. Banjir tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 1.800 orang.

Delta Plan berbentuk kotak-kotak raksasa dari beton yang diturunkan ke dalam air laut sedalam 30 km. Delta Plan ini menutup laut Zuiderzee yang terdiri dari 13 bagian yang membentuk sistem perlindungan banjir.

Meskipun mahal, Delta Plan terbukti mampu melindungi Belanda dari risiko banjir menjadi hanya 1 kali dalam 4 ribu tahun. Hebat bukan? Karena hal ini, Delta Plan juga menjadi salah satu dari keajaiban dunia modern.

Experimental Electromechanical Module (MOSE)

Sumber gambar https://www.cbsnews.com

Teknologi anti banjir ini diciptakan oleh pemerintah Italia untuk mengatasi banjir yang disebabkan oleh air pasang dari laut Adriatik yang sering kali menyebabkan banjir di kota Venesia dan melindungi Kawasan Laguna.

MOSE lebih dikenal dengan nama Musa Sang Pembelah Laut Merah, karena cara kerjanya adalah dengan mengaktifkan gerbang yang telah ditanam di dasar laut ketika ketinggian air sudah melebihi batas wajar. Kemudian gerbang akan aktif dan menghalangi air yang akan masuk dan kota Venesia akan terbebas dari banjir.

Terowongan SMART

Sumber gambar www.amusingplanet.com

Teknologi yang satu ini dibangun untuk mengatasi banjir yang cukup parah di Kuala Lumpur yang kemudian berkembang dan dijadikan jalan bawah tanah jika sedang tidak macet. Sehingga inovasi ini juga akan efektif untuk mengurangi kemacetan di kota tersebut.

SMART merupakan singkatan dari Stormwater Management and Road Tunnel, yang dibangun dengan panjang 9,7 KM dan merupakan terowongan air terpanjang di Asia Tenggara. Terowongan ini juga dapat menampung 3 juta meter kubik air dan kemudian mengalirkannya ke sungai, sehingga dapat mencegah banjir di pusat kota. Ketika banjir telah usai, terowongan akan langsung dibersihkan dan dapat dilalui kembali oleh kendaraan. Canggih bukan?

Tubewall

Sumber gambar www.gadelius.com

Tubewall merupakan alat pengendali banjir yang dibuat oleh Swedia dengan memanfaatkan tabung dari bahan kain anti bocor yang dapat menggelembung dan menahan arus air yang deras. Tabung ini tidak akan bisa bergeser karena bobot air dari banjir akan menekannya ke bawah.

Meskipun harus memompanya terlebih dahulu, tetapi alat ini cukup mudah dipasang. Hanya membutuhkan waktu selama 1 jam dengan tenaga 2 orang untuk memasang instalasi Tubewall sepanjang 60 meter. Tubewall kemudian dapat dikempiskan dan dilipat kembali apabila banjir sudah surut.

Selain lebih praktis, biaya yang dikeluarkan untuk membuat alat ini tentunya juga lebih murah dibandingkan dengan teknologi anti banjir yang lain.

From our editorial team

Teknologi Anti Banjir yang Bermanfaat

Banjir banyak memberikan dampak negatif untuk manusia. Teknologi untuk mengatasi banjir seperti yang diuraikan di atas tentu sangat bermanfaat untuk mengurangi korban terdampak banjir dan menyelamatkan lingkungan agar lebih lestari.