9+ Ragam Baju Adat Sumatera Yang Keren dan Wajib Kamu Tahu (2018)

9+ Ragam Baju Adat Sumatera Yang Keren dan Wajib Kamu Tahu (2018)

Seperti halnya wilayah lain di Nusantara, Sumatera pun memiliki ragam budaya yang menarik. Salah satunya adalah pakaian adat. Pakaian ini punya ciri khas yang berbeda di setiap daerah di pulau Sumatera. Apa saja pakaian adat yang ada di Sumatera? Simak ulasannya hanya di BP-Guide.

Baju Adat Sumatera adalah Salah Satu Warisan Budaya Indonesia yang Harus Dirawat dan Dijaga

Indonesia tidak hanya terkenal dengan kekayaan hasil alamnya. Hasil alam ini tidak hanya digunakan untuk menghidupi bangsa sendiri, tapi sudah diperdagangkan dengan negara lain. Budaya dan adat kebiasaan pun sangat beragam. Termasuk di Sumatera. Dari mulai pulau Weh di ujung utara hingga Lampung di ujung selatan menyajikan keragaman budaya yang masih tetap terpelihara hingga sekarang.

Salah satu unsur budaya lokal Sumatera yang masih tetap eksis adalah baju adat. Setiap wilayah di Sumatera punya ciri khas tersendiri. Ada yang ramai seperti di Palembang, ada pula yang simpel dan elegan seperti baju melaju Riau. Semuanya merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan rawat dengan baik.

Ciri Khas dan Perbedaan yang Dimiliki Pakaian Adat di Sumatera Menunjukkan Kekayaan Budaya Bangsa

Sumber gambar kawulala.blogspot.co.id

Masing-masing suku yang tersebar di seluruh Indonesia, khususnya Sumatera, memiliki budaya berbeda. Sehingga baju adat mereka pun didesain untuk mewakili budaya masyarakat setempat. Maka itu setiap daerah di Sumatera memiliki motif baju adat berbeda-beda. Inilah yang menyebabkan Indonesia kaya dengan budaya nan unik.

Salah Satu Faktornya adalah Letak Wilayah

Sumber gambar www.goway.com

Tengoklah peta negara kita. Datarannya terbentang di antara laut dan samudera, melahirkan ribuan pulau. Dari mulai yang besar seperti Kalimantan hingga yang kecil seperti di wilayah Natuna. Letak suatu wilayah turut menjadi faktor yang memengaruhi terbentuknya keragaman budaya. Pasalnya, kehidupan masyarakat pasti menyesuaikan dengan letak wilayahnya.

Masyarakat pesisir dengan masyarakat dataran tinggi tentu berbeda pola hidupnya. Baik itu mata pencaharian, kepercayaan, rumah adat, juga baju adatnya. Pada penduduk pesisir, misalnya. Karena lebih banyak bekerja menjadi nelayan, pakaian yang mereka pakai pun lebih tipis dari masyarakat yang tinggal di wilayah dataran tinggi.

Pola Maupun Kebiasaan Sehari-hari Masyarakat Tidaklah Sama di Setiap Wilayah

Sumber gambar www.emirates247.com

Tiap daerah memiliki kondisi alam yang berbeda-beda. Faktor ini melahirkan beragam tradisi dan kebiasaan dalam masyarakat. Kebiasaan tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan supaya mereka dapat mempertahankan hidup. Kondisi alam turut berpengaruh pada pemikiran dan budaya mereka, termasuk dalam merancang pakaian adat.

Baju Adat dari Berbagai Provinsi di Pulau Sumatera

Sumatera yang memiliki banyak provinsi melahirkan banyak pakaian adat yang menunjukkan ciri khas dari budaya setempat. Pakaian adat di Aceh akan berbeda dengan pakaian adat di Sumatera Selatan. Setiap wilayah akan mempunyai model pakaian adat yang mewakili adat dan budaya di tempat mereka.

Ulee Balang - Nangroe Aceh Darussalam

Sumber gambar www.weddingku.com

Dalam bahasa Melayu, Ulee Balang berarti hulubalang, yakni keluarga ratu atau raja. Bisa disimpulkan, pakaian ini identik dikenakan oleh keluarga kerajaan. Arti kata ulee balang atau hulubalang adalah sesosok pemimpin kesultanan atau daerah tertentu di Aceh. Mereka dikenal dengan sebutan “Teuku” atau “Cut” yang menunjukkan sisi kebangsawanan seseorang.

Awalnya, pakaian ini memang merupakan busana para keluarga bangsawan. Namun, sebagai bentuk penghargaan pada budaya daerah di masa modern ini, Ulee Balang kerap dijadikan baju adat pernikahan. Pakaian ini terdiri dari busana bagian atas, bagian tengah, bagian bawah, dan aksesoris. Untuk pakaian wanita juga diberi banyak hiasan, di bagian kepala maupun dada.

Ulos - Sumatera Utara

Sumber gambar www.netralnews.com

Jika ditilik dalam bahasa batak, ulos berarti kain. Ceritanya, dulu banyak orang Batak tinggal di daerah dataran tinggi yang bersuhu dingin. Mereka pun memerlukan pakaian yang tebal agar lebih hangat. Sekalipun rasa hangat bisa didapatkan dari matahari dan api, orang Batak tetap memilih ulos sebagai penghangat tubuh karena mudah digunakan kapan saja dan di mana saja.

Sudah menjadi tradisi bagi orang Batak untuk memberi ulos pada keeluarga dan kerabatnya. Tradisi ini disebut Mangulosi. Sesuai aturan hukum adat Batak, ulos diberikan pada keluarga yang lebih muda atau berkedudukan lebih bawah dari mereka. Jadi, kain ulos diberikan oleh orangtua kepada anaknya yang mulai membangun rumah tangga, melahirkan, atau lain-lain.

Pada dasarnya, ulos punya 4 warna, yakni putih (lambang kesucian dan kejujuran), kuning (lambang kekayaan), merah (keberanian), dan hitam (duka, sedih). Karena itu, kain ulos yang diberikan pada acara-acara khusus pun akan berbeda warnanya. Untuk upacara pernikahan, orang Batak mengenakan ulos ragi idup warna terang. Saat upacara kematian, mereka memakai ulos ragi hotang dengan warna gelap.

Saat ini kain ulos masih menjadi bagian dari pakaian adat suku Batak yang punya nilai kesakralan cukup tinggi. Selain itu, kain ulos yang masih ditenun dengan cara tradisional akan bernilai jual tinggi. Sehingga tidak sembarangan orang bisa mempunyai dan memakai kain ulos.

Bundo Kanduang - Sumatera Barat

Sumber gambar www.raunholic.com

Dari Sumatera Utara, kita bergeser ke Sumatera Barat. Di sini, pakaian adat dikenal dengan sebutan “Bundo Kanduang” atau ibu kandung. Kenapa disebut demikian? Karena pakaian ini punya makna sebagai bentuk rasa hormat kepada wanita yang telah menikah. Lewat baju ini, masyarakat Sumatera Barat ingin menunjukkan betapa penting peran ibu bagi sebuah keluarga dan rumah tangga.

Baju adat Sumatera ini terdiri dari tengkuluk tanduk, yaitu tutup kepala seperti tanduk atau atap rumah masyarakat Minang. Tengkuluk tanduk ini berarti adanya kebaikan akal serta tanggung jawab yang ditanamkan pada hati penduduk Minang. Bagian kedua adalah baju kurung, umumnya punya motif warna emas. Motif ini berarti bahwa wanita seyogyanya patuh pada hukum adat dan aturan agama.

Bagian berikutnya berupa sarung atau lambak yang menutupi bagian bawah tubuh. Bahan songket beraneka corak dan warna menambah kesan elegan pada busana ini. Bagian keempat dari baju adat Sumatera ini adalah salempang berbahan songket yang disampirkan ke bahu wanita. Salempang mewakili simbol bahwa perempuan harus berkasih sayang pada anak dan cucu. Bagian terakhir tentunya adalah aksesoris pelengkap yang membuat baju adat Sumatera ini terlihat wah.

Malayu Riau - Riau

Baju adat Riau lekat dengan tradisi Melayu. Provinsi ini memang dipengaruhi budaya Islam, sehingga pakaian khasnya pun cenderung panjang dan menutupi tubuh. Sesuai dengan syariat dalam Islam yang harus menutup aurat. Baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Klasifikasikan Baju Adat Riau Sesuai Umur Pemakai

  • Pakaian anak atau dikenal dengan sebutan baju monyet, berbentuk celana tanggung hingga panjang. Lengkap dipakai bersama peci atau kain segi empat.
  • Pakaian dewasa berupa baju kurung pendek untuk pria. Ada juga baju kebaya pendek, baju kurung laboh, dan baju kurung tulang belut.
  • Pakaian bagi orang tua, berupa baju kurung teluk belanga atau baju kurung cekak musang.

Baju Adat Riau juga Dibedakan Sesuai Acara yang Diselenggarakan

  • Pakaian sehari-hari.
  • Pakaian formal/resmi, yang digunakan saat acara penobatan raja atau anggota kerajaan lainnya. Pria dan wanita memakai pakaian dengan model berbeda. Para gadis memakai baju kebaya laboh cekak musang, sedangkan mereka yang sudah menikah mengenakan baju kurung tulang belut.
  • Pakaian pernikahan. Bagi pengantin pria memakai baju kurung teluk belanga atau baju kurung cekak musang berbahan beludru, sedangkkan para wanita memakai baju kurung kebaya laboh atau baju kurung teluk belanga, tergantung acara pernikahan yang dilangsungkan.

Kebaya Labuh dan Teluk Balangga - Kepulauan Riau

Sumber gambar www.trendbajukebaya.com

Kedua baju adat Riau ini sudah disebutkan sebelumnya. Tapi Anda pasti masih penasaran bagaimana persisnya. Iya, kan?

Untuk kebaya labuh, busana adat wanita asal Riau ini dikenakan saat upacara adat atau resmi, misalnya upacara pernikahan. Sesuai namanya, baju ini berbentuk kebaya, namun mempunyai 3 buah kancing dan bagian bawah kebaya lebih panjang dibanding kebaya lain. Kebaya labuh umumnya berbahan kain sutera Cina, kain broklat, sedangkan sarungnya berbahan songket. Ada dua jenis busana labuh ini, yakni kebaya labuh nyonya dan kebaya pendek.

Bagaimana dengan pakaian adat Teluk Belangga? Nah, baju adat Riau ini dipakai para pria saja. Bentuknya berupa atasan lengan panjang, dipadukan dengan celana panjang dan sarung berukuran pendek. Umumnya, teluk belangga bermotif sederhana. Dominasi warnanya adalah hitam, abu-abu, atau warna netral.

Agar makin sempurna, baju adat ini dilengkapi hiasan kepala bernama tanjak, yang dikenakan hanya saat acara resmi seperti kematian atau pernikahan. Untuk acara harian, teluk belangga dipadukan dengan peci sehingga tampak lebih santai dan simpel.

Jangan dilupakan juga baju adat Sumatera bernama Kebaya Labuh dan Teluk Belangga merupakan warisan budaya dari era kejayaan Islam di Riau. Seiring waktu, kedua pakaian adat ini dipakai tak hanya oleh orang Muslim, tapi juga seluruh masyarakat Riau.

Melayu Jambi - Jambi

Sumber gambar vasilputra.wixsite.com

Baju adat Melayu dari Jambi juga terbagi ke dalam fungsi dan bentuk yang berbeda. Ada baju adat untuk aktivitas harian dan baju adat resmi untuk upacara tradisi daerah. Untuk pria, baju yang dipakai terdiri dari lacak, yaitu sebuah penutup kepala berbahan kain beludru dengan bagan atas meruncing. Ini ada maknanya. Pria memakai ini karena dianggap harus punya kepribadian yang cekatan dan cerdas.

Baju yang dikenakan pria adalah baju kurung, juga berbahan beludru dengan sulaman warna emas yang menandakan kemakmuran tanah Melayu. Sebagai bawahan, pria memakai celana panjang berbahan beludru yang disebut cangge. Celana panjang ini ditutupi kain songket hingga lutut sehingga penampilan pria menjadi makin eksentrik. Tak lupa ikat pinggang dikenakan untuk menguatkan kain songket. Ikat pinggang ini juga berfungsi agar keris tradisional Jambi yang diselipkan di belajang pakaian tidak melorot.

Bagaimana dengan pakaian adat wanita? Biasanya saat berlangsung acara resmi, wanita memakai pakaian tradisional Jambi berupa baju kurung berbahan beludru. Makin cantik karena baju ini berhiaskan bunga melati, pucuk rebung, atau kembang tagapo. Khusus wanita juga ditambahkan selempang songket berbahan benang sutera warna emas sebagai pemanis.

Hiasan kepala bagi wanita adalah pesangkon atau mahkota berbahan beludru yang bentuknya menyerupai duri pandan. Ditambah ikat pinggang dan aksesoris, sempurna sudah penampilan baju adat Sumatera khas Jambi untuk wanita.

Melayu Bengkulu - Bengkulu

Sumber gambar adat-ku.blogspot.co.id

Sekarang kita beralih ke Bengkulu. Penduduk daerah ini mengenakan baju adat berbahan beludru atau wol. Pakaian ini dikenal bernama Melayu Bengkulu. Bentuk pakaiannya mirip pakaian adat Jambi. Ada dua model baju pada Melayu Bengkulu, yakni untuk pria dan wanita.

Baju adat Bengkulu untuk pria menyerupai baju adat Jambi, namun ada perbedaan di bagian kepala. Baju adat Bengkulu untuk pria memakai penutup kepala bernama detar, jas berbahan wol atau beludru, serta celana panjang berbahan satin nan halus. Kain songket pun ditambahkan untuk menutupi celana hingga lutut.

Untuk wanita, baju adat Melayu Bengkulu tampil dalam balutan warna-warna gelap semisal biru tua, merah tua, lembayung dan sejenisnya. Baju adat Bengkulu untuk wanita terdiri dari baju kurung berbahan beludru. Dihiasi kain songket berbahan sutera dengan benang berwarna emas sebagai bawahan, serta aksesoris kembang goyang di rambut, konde, anting-anting, dan sejenisnya.

Aesan Gede dan Aesan Pasangko - Sumatera Selatan

Sumber gambar www.hipwee.com

Selanjutnya kita menuju Sumatera Selatan. Bagian bawah atau selatan Sumatera di peta Indonesia. Baju adat Sumatera Selatan dikenal dengan nama Aesan Gede dan Aesan Paksangko. Aesan Gede menyimbolkan tanda kebesaran, sedangkan Aesan Paksangko mewakili simbol anggunnya warga Sumatera Selatan. Kedua pakaian adat Sumatera ini mulai dipakai sejak masa Kerajaan Sriwijaya, yaitu di awal abad ke-7 hingga 13 Masehi. Aksen warna emas pada baju adat tersebut menyimbolkan Sriwijaya sebagai wilayah emas pada masa kejayaannya.

Biasanya, Aesan Gede digunakan pada acara pernikahan. Baju ini terdiri dari atasan berupa mahkota wanita yang bernama Karsuhun, sedangkan untuk pria mengenakan Kopiah Cuplak. Baju yang dipakai bernama Baju Dodot, dilengkapi songket warna emas kombinasi, kelapo standan, kembang goyang dan bungo cempako.

Aesan Paksangko yang dikenakan saat acara pernikahan lebih berkesan anggun dan elegan, berbeda dengan Aesan Gede yang lebih mewah. Baju adat pria Aesan Paksangko merupakan songket lepus bermotif benang warna emas, jubah bercorak emas, selempang songket, seluar, serta hiasan kepala. Bagi wanita, yang dipakai adalah baju kurung berwarna terang disertai corak emas, kain songket lepus bermotif emas, penutup dada, serta tentunya mahkota Aesan Paksangko.

Baju Seting dan Kain Cual - Kepulauan Bangka Belitung

Sumber gambar www.raparapa.com

Bangka Belitung identik dengan pemandangan alam yang indah. Bagaimana dengan baju adatnya? Bangka Belitung memiliki baju adat bernama Baju Seting dan Kain Cual. Kain Cual sebenarnya adalah songket bercorak flora (tumbuhan/tanaman) dan fauna (hewan), yang makin indah karena dibuat dengan teknik menenun yang rumit.

Kain Cual bisa dibilang bukan sembarang kain. Kain Cual dipercaya menjadi cermin keelokan, kebaikan, serta keanggunan pada lekuk hiasannya. Kain ini mewakili model busana Arab dan China, karena dibuat menggunakan bahan polyester, sutera, serat kayu, katun, dan benang emas senilai 18 karat. Tak heran jika harga kain ini lebih mahal dari kain lain yang sejenis.

Umumnya, kain Cual dipakai khusus pada acara resmi bersama baju seting, yaitu baju kurung berbahan beludru atau sutera. Dilengkapi mahkota atau paksian bagi wanita dan sungkon bagi penutup kepala pria.

Kain Tapis - Lampung

Sumber gambar www.tribunnews.com

Pemberhentian terakhir kita adalah Lampung. Di sini, yang terkenal adalah kain sarung bernama kain tapis. Kain ini umumnya dikenakan para wanita Lampung. Kain Tapis dianggap mencerminkan keharmonisan alam dan Sang Pencipta. Sejak mulai dipakai pada abad ke-2 SM, kain ini tak banyak bermotif. Kini, mucul kreasi motif bercorak fauna, flora, dan lainnya.

Masing-masing wilayah di Lampung punya tampilan kain Tapis yang berbeda. Penduduk yang tinggal di pesisir biasanya memakai Tapis Cucuk Andak, Tapis Kuning, dan Tapis Semaka. Tapis Lampung asal Pubian Telu Suku identik dengan Tapis Balak, Tapis Jung Sarat, Tapis Raja Medal, dan Tapis Linau. Sementara itu, Kampung Way Kanan biasanya memakai Tapis Gabo, Tapis Halom, atau Tapis Tuha.

Selain dijadikan baju adat dan perkawinan, kain Tapis juga dikreasikan menjadi kemeja. Bahkan diinovasikan menjadi syal. Karena butuh waktu lama membuatnya, harga kain Tapis pun tak bisa dibilang murah. Kain ini bisa menyentuh harga 750 ribu rupiah hingga lebih dari 1 juta rupiah, tergantung corak dan level kesulitan membuatnya.

From our editorial team

Pakaian Adat Sumatera bisa Dilestarikan dengan Dijadikan Pakaian Pernikahan

Pakaian adat memang umumnya banyak menggunakan hiasan dan aksesoris. Karena itu, pakaian adat lebih sering digunakan untuk acara-acara khusus. Seperti pernikahan atau upacara adat. Karena itu, bagi Anda yang memang merencanakan untuk menikah, pastikan menggunakan pakaian adat sesuai dengan daerah asal. Dengan demikian Anda sudah ikut membantu dalam melestarikan pakaian adat yang merupakan warisan budaya bangsa Indonesia.